ET Hadi Saputra | Penulis


Nasib jembatan tua di Lembah Anai kini tinggal menunggu waktu untuk jadi rongsokan karena alasan mitigasi bencana yang terdengar agung, namun terasa seperti pengkhianatan terhadap sejarah. Para pemangku kebijakan lebih suka menghancurkan saksi bisu peradaban kolonial daripada mencari solusi teknis yang tidak mengorbankan warisan bangsa.


SAYA sedang menyesap kopi saat membaca kabar itu. Jembatan kereta api di Lembah Anai akan dibongkar. Katanya, pilar jembatan menjadi biang kerok banjir bandang karena menyumbat aliran sungai, lalu air meluap dan merusak jalan raya. Narasi itu terdengar sangat logis—saking logisnya, saya ingin tertawa. Logika ini seperti orang sakit gigi yang memilih memenggal kepala agar sakitnya hilang.

Kita memang bangsa yang praktis, atau mungkin terlalu malas berpikir rumit. Jembatan itu berdiri sejak akhir abad ke-19, dibangun dengan teknologi Belanda untuk cog railway—barang langka di dunia. Bagi pejabat kita sekarang, ia hanya penghalang air.

Ini bukan sekadar soal semen dan besi, melainkan heritage. Namun di negeri ini, kata “sejarah” sering kalah dengan kata “proyek”. Mereka beralibi demi keselamatan rakyat agar jalan tidak putus lagi. Siapa berani membantah nyawa manusia?

Saya teringat analogi elang dan ayam. Elang melihat cakrawala luas dan memanfaatkan angin tanpa merusak sarangnya. Ayam hanya melihat depan paruhnya—ada gangguan, langsung dipatok. Ada jembatan dianggap menghalangi, langsung dibongkar. Pendek sekali cara berpikirnya.

Kenapa tidak memikirkan redesign tanpa membongkar total? Atau melebarkan sungai di titik lain? Oh, itu pasti mahal dan butuh riset lama. Kita lebih suka solusi instan yang bisa dipamerkan sebagai kerja nyata.

Banyak orang pintar di kementerian yang tahu nilai sejarah jembatan itu, tapi kepintaran sering menciut saat berhadapan dengan anggaran. Ironisnya, setelah dibongkar, mereka janji bangun jembatan baru yang modern tanpa pilar tengah. Megah mungkin, tapi rohnya sudah hilang.

Ini seperti membunuh harimau karena takut digigit, lalu menggantinya dengan boneka plastik. Aman, tapi tak ada wibawa dan cerita. Kita menghapus jejak nenek moyang karena tak sanggup membersihkan lumpur yang ditinggalkan.

Secara hukum, cagar budaya dilindungi undang-undang. Tapi atas nama darurat mitigasi bencana, aturan bisa ditekuk. Kalau sudah “darurat”, hukum jadi lemah.

Jangan kaget jika anak cucu kita hanya melihat Lembah Anai dari foto lama @nofrins . Mereka akan bertanya, “Mana jembatan kereta giginya?” Kita hanya bisa jawab, “Sudah kami bongkar supaya air mengalir tenang saat banjir.” Sungguh pencapaian heroik.

Kita jago menghancurkan masa lalu demi masa depan yang hambar. Mari tunggu, apakah setelah jembatan rata dengan tanah, alam berhenti mengamuk? Atau alam justru tertawa melihat kita menyalahkan jembatan tua atas ketidakmampuan menjaga lingkungan secara utuh. (*)




 
Top